ADAT DAYAK KALTENG
Tarian ini mengisahkan tentang kepahlawanan suku dayak, sering ditampilkan pada setiap ritual adat sebelum melakukan peperangan di jaman dulu melawan penjajah.
Biasanya Tarian tradisional dayak di suguhkan hanya pada saat acara pernikahan adat dan acara penyambutan tamu dari luar daerah .
atau pada Festival - festival budaya saat tertentu misalnya pada hari jadi kota Palangkaraya, Menyambut Perayaan Agustusan, sangat jarang kegiatan festival yang diadakan rutin minimal 3 Bulan sekali untuk melakukan kompetisi dari tiap-tiap daerah di masing-masing Kabupaten baik itu Kabupaten Induk maupun Kabupaten pemekaran yang ada sekarang ,kota palangkaraya di propinsi Kalimantan Tengah
Pengunaan Bahasa Dayak Ngaju untuk keagamaanUntuk kepentingan Bahasa Dayak muncul dalam tiga dialek menurut daftar milik the Bible Society; dialek Ngaju dipakai di daerah tenggara Borneo Belanda(Kalselteng) ; dialek Sea Dayak (Dayak Laut) dipakai di daerah Sarawak, dan dialek Land Dayak (Dayak darat) atau Beta dipakai di daerah Sarawak. Perjanjian Baru diterjemahkan oleh J.F. Becker dan A. Hardeland of the Rhenish Missionary Society, dipublikasikan dalam dialek Ngaju pada tahun 1846, buku Sejarah Alkitab diterbitkan empat tahun sebelumnya. Alkitab diterjemahkan oleh Hardeland dan seorang Dayak pribumi yang bernama Timothy Marat dipublikasikan oleh the Netherlands Bible Society pada tahun 1858. Al kitab ini dinamakan Surat Barasih.
Untuk kepentingan agama Islam, pengunaan bahasa dayak ngaju tidak terdapat catatan penting untuk kepentingan tersebut. Umumnya orang dayak ngaju dan sub suku2nya seperti Bakumpai, mangkatip, seruyan dan katingan mengunakan kitab-kitab dalam bahasa melayu / banjar. seperti Kitab Sabilal Muhtadin karya sheikh muhammad arysad Al banjari.
Agama modern masuk Tanah Dayak pada tahun 1520 dengan masuk islamnya
Pangeran Samudera dari Negara Daha dan Berdirinya Kesultanan Banjar.
Rakyat Kesultanan yang berasal dari Suku Biaju / Ngaju Bakumpai dan
Beranggas mengikutinya, salah satunya Patih Aria Taranggana dari
Muarabahan, BakumpaiAgama Kristen masuk Tanah Dayak pada sekitar tahun 1860-an dengan dibaptisnya Temanggung Dayak Ngaju Ambu Jayanegara dari Tumbang Kapuas/ Kuala Kapuas dengan nama Nikodemus, menjadi Temanggung Ambu Nikodemus Jayanegara.

ULUH BAKUMPAI
Uluh bakumpai adalah julukan bagi suku dayak ngaju yang mendiami daerah aliran sungai barito. bakumpai berasal dari kata ba (dalam bahasa banjar yang artinya memiliki) dan kumpai yang artinya adalah rumput.
dari julukan ini, dapah dipahami bahwa suku ini mendiami wilayah yang memiliki banyak rumput. menurut legenda, bahwa asal muasal suku dayak bakumpai adalah dari suku dayak ngaju yang akhirnya berhijrah ke negeri yang sekarang disebut dengan negeri marabahan.
Pada mulanya mereka menganut agama nenek moyang yaitu kaharingan, hal ini dapat dilihat dari peninggalan budaya yang sama seperti suku dayak lainnya. kemudian mereka menjumpai akan wilayah itu seorang yang memiliki kharismatik, seorang yang apabila dia berdiri di suatu tanah, maka tanah itu akan ditumbuhi rumput. orang tersebut tidak lain adalah nabiyullah Khidir as. di dalam cerita mereka kemudian masuk agam islam dan berkembang biaklah mereka menjadi suatu suku. suku bakumpai adalah julukan bagi mereka, karena apabila mereka belajar agama di suatu daerah dengan gurunya khidir, maka tumbuhlah rumput dari daratan tersebut, sehingga kemudian mereka dikenal dengan suku dayak bakumpai.
Suku dayak bakumpai dahulunya memiliki suatu kerajaan yang lebih tua dibandingkan dengan kerajaan daerah banjar, akan tetapi karena daya magis yang luar biasa akhirnya kerajaan ini berpindah ke sungai barito dan rajanya dikenal dengan nama datuk barito.
Dari daerah marabahan ini mereka menyebar ke aliran sungai barito. dari cerita rakyat, bahwa ada suatu daerah di kabupaten murung raya yaitu muara untu pada mulanya hanyalah suatu hutan belantara yang dikuasai oleh bangsa jin bernama untu. kemudian ada dari suku bakumpai yang hijrah kesana dan mendiami daerah tersebut yang bernama Raghuy. sampai sekarang jika ditinjau dari silsilah orang yang mendiami muara untu, mereka menamakan moyang mereka Raguy.
Suku Dayak Ngaju adalah suku yang mengunakan bahasa Ngaju yaitu Bahasa
yang dituturkan oleh suku besar Dayak Ngaju dan suku-suku lainnya di
Propinsi kalimantan Tengah.Suku Dayak Ngaju menempati DAS Sungai
Kapuas, Kahayan, Katingan, Mentaya, seruyan dan Barito.Jumlah
Penggunanya lebih dari 1.000.000 orang termasuk di dalamnya dialek
bakumpai,mengkatip dan Mendawai.Menurut Tjilik Riwut, termasuk dalam pengguna bahasa ini adalah 54 anak suku, Termasuk di dalamnya Arut, Balantikan, kapuas, Rungan, Manuhing, Katingan, Saruyan, Mentobi, Mendawai, Bara-dia, Bara-Nio, Bara-ren, Mengkatip, Bukit, Baranggas, dan Bakumpai. Untuk beberapa suku yang beliau masukan dalam suku dayak ngaju ini, termasuk 4 yang terakhir perlu pengkajian lagi. Karena Suku-suku ini kemudian dimasukan oleh beberapa peneliti, kedalam suku Bakumpai / bahasa Bakumpai sebagai etnis tersendiri.
Pada tahun
1858 digunakan oleh Belanda sebagai bahasa Pengantar Injil di Pulau
kalimantan bagian Selatan, terutama oleh Zending-zending Protestan.
Sampai dengan saat ini menjadi bahasa utama dalam jemaat Gereja
Kalimantan Evangelis (GKE)di Kalimantan tengah dan Kalimantan selatan.Suku Dayak Ngaju saat ini sudah banyak yang memeluk Agama Modern yaitu Islam dan Kristen, disamaping agama asli Kaharingan. Penduduk yang beragama islam umumnya menempati daerah pantai dan Pinggiran Sungai seperti Kapuas, Pulangpisau, Sampit, Kuala Pembuang, Sebagau dan katingan. Sedangkan Yang beragama kristen dan kaharingan umumnya pada daerah yang lebih kedarat seperti daerah jekan raya, pahandut, gunung mas, rungan, manuhing, barimba, hampatung dll
Umumnya masyarakat kalimantan tengah dapat memahami Bahasa ini dan saat ini telah diajarkan di sekolah negeri sebagai bahasa daerah / muatan lokal.
Tokoh-tokoh Nasional dan Daerah yang Berbahasa Dayak Ngaju antara lain:
Tjilik Riwut, Ngaju Katingan
H. Assan, Ngaju mentaya
Reinout Silvanus
Haji Sabran Ahmad, Ngaju Kapuas
Haji Asmawi A. Ghani, Bakumpai
A.Dj Nihin,
Harteman Assan, Ngaju Sampit / Baamang
K.H.Hasan Basri, Bakumpai
Agustin Teras Narang, Ngaju Kapuas
Z.A. Maulani, bakumpai,
K.H Haderani, bakumpai.
Prof K.Mohamad Aini Usop, Ngaju Kapuas
Suku Dayak Bukit...Suku dayak Bukit adalah Suku Dayak yang bermukim di daerah di Pegunungan Meratus di kalimantan Selatan.
Adalah suku asli yang mendiami pegunungan Meratus di Kalimantan Selatan, karena itu suku ini lebih senang disebut Dayak Meratus, daripada "Dayak Bukit" sudah terlanjur dimaknai sebagai "orang gunung". Padahal menurut Hairus Salim dari kosa kata lokal di daerah tersebut istilah 'bukit' berarti bagian bawah dari suatu pohon' yang juga bermakna 'orang atau sekelompok orang atau rumpun keluarga yang pertama yang merupakan cikal bakal masyarakat lainnya'. Adapula yang menamakan sebagai Dayak Banjar, artinya Dayak yang berasal dari daerah Banjar yaitu Kalimantan Selatan.
Populasi suku Dayak Bukit di Kalimantan Selatan pada sensus penduduk tahun 2000 berjumlah 35.838 jiwa, sebagian besar daripadanya terdapat di kabupaten Kota Baru yang berjumlah 14.508 jiwa.
Suku Bukit juga dinamakan Ukit, Buket, Bukat atau Bukut. Suku Bukit atau suku Dayak Bukit terdapat di beberapa kecamatan yang terletak di pegunungan Meratus pada kabupaten Banjar, kabupaten Balangan, Hulu Sungai Tengah, Hulu Sungai Selatan, kabupaten Tapin, Tanah Laut, Tanah Bumbu, dan Kota Baru.
Beberapa golongan Dayak Bukit yaitu
Dayak Pitap, di hulu sungai Pitap, kecamatan Awayan, Balangan
Dayak Hantakan, di kecamatan Hantakan, Hulu Sungai Tengah
Dayak Haruyan, di kecamatan Haruyan, Hulu Sungai Tengah
Dayak Loksado, di kecamatan Loksado, Hulu Sungai Selatan
Dayak Piani, di kecamatan Piani, Tapin
Dayak Paramasan, di kecamatan Paramasan, Banjar
Dayak Riam Adungan, di kecamatan Kintap, Tanah Laut
Dayak Bajuin, di kecamatan Pelaihari, Tanah Laut
Dayak Bangkalaan, di kecamatan Kelumpang Hulu, Kotabaru
Dayak Sampanahan, di kecamatan Sampanahan, Kotabaru
Dayak Labuhan
Walupun oleh sebagian orang digolongkan ke dalam suku melayu Bukit. tetapi mereka sendiri lebih senang disebut Dayak Bukit. Karena mereka memiliki kesamaan ritual dan kebatinan dengan suku Dayak lainnya
Menurut Cilik Riwut, Suku Dayak Bukit merupakan suku kekeluargaan yang termasuk golongan suku (kecil) Dayak Ngaju. Suku Dayak Ngaju merupakan salah satu dari 4 suku kecil bagian dari suku besar (rumpun) yang juga dinamakan Dayak Ngaju.
Mungkin adapula yang menamakan rumpun suku ini dengan nama rumpun Dayak Ot Danum. Penamaan ini juga dapat dipakai, sebab menurut Tjilik Riwut, suku Dayak Ngaju merupakan keturunan dari Dayak Ot Danum yang tinggal atau berasal dari hulu sungai-sungai yang terdapat di kawasan ini, tetapi sudah mengalami perubahan bahasa. Jadi suku Ot Danum merupakan induk suku, tetapi suku Dayak Ngaju merupakan suku yang dominan di kawasan ini.
Budaya BukitSuku ini dapat digolongkan sebagai suku Dayak, karena mereka teguh memegang kepercayaan atau religi suku mereka. Akan tetapi religi suku ini, agak berbeda dengan suku Dayak di Kalimantan Tengah (Suku Dayak Ngaju), yang banyak menekankan ritual upacara kematian. Suku Dayak Bukit lebih menekankan upacara dalamkehidupan, seperti upacara pada proses penanaman padi atau panen. Suku Dayak Bukit juga tidak mengenal tradisi ngayau yang ada zaman dahulu pada kebanyakan suku Dayak.
Upacara ritual suku Dayak Bukit, misalnya "Aruh Bawanang". Tarian ritual misalnya tari Babangsai untuk wanita dan tari Kanjar untuk pria. Suku Bukit tinggal dalam dalam rumah besar yang dinamakan balai.
Balai merupakan rumah adat untuk melaksanakan ritual pada religi suku mereka. Bentuk balai, "memusat" karena di tengah-tengah merupakan tempat altar atau panggung tempat meletakkan sesajen. Tiap balai dihuni oleh beberapa kepala keluarga, dengan posisi hunian mengelilingi altar upacara. Tiap keluarga memiliki dapur sendiri yang dinamakan umbun. Jadi bentuk balai ini, berbeda dengan rumah adat suku Dayak umumnya yang berbentuk panjang (Rumah Panjang).
Suku Dayak Bukit mengenal tiga kelompok roh pemelihara kawasan pemukiman dan tempat tinggal yaitu :
Siasia Banua
Bubuhan Aing
Kariau
Siasia Banua contohnya :
Siasia Banua Kambat
Siasia Banua Pantai Batung
Siasia Banua Kambat
dan sebagainya
Bubuhan Aing contohnya :
Bubuhan Aing Muhara Indan
Bubuhan Aing Danau Bacaramin
Bubuhan Aing Maantas
dan sebagainya
Kariau contohnya :
Kariau Labuhan
Kariau Padang Batung
Kariau Mantuil
dan sebagainya
Bahasa Melayu Bukit
Bahasa Dayak Bukit, menurut penelitian banyak kemiripan dengan dialek Bahasa Banjar Hulu. Ada pula yang menamakan bahasa Bukit sebagai "bahasa Banjar archais". Bahasa Bukit termasuk Bahasa Melayu Lokal yang disebut Bahasa Melayu Bukit (bvu).
Perbandingan hubungan suku Bukit dengan suku Banjar, seperti hubungan suku Baduy dengan suku Banten. Suku Banjar dan suku Banten merupakan suku yang hampir seluruhnya memeluk Islam, sedangkan suku Bukit dan suku Baduy merupakan suku yang teguh mempertahankan religi sukunya yang digolongkan dalam kaharingan.